PELATIHAN PRAKTIS KOMUNIKASI EMPATIK DALAM PELAYANAN KESEHATAN
Abstract
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Komunikasi Lancar, Miskom Ambyar! Skill Komunikasi Wajib di Dunia Medis” yang diselenggarakan pada Rabu, 25 Februari 2025 di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, merupakan bentuk intervensi strategis untuk menjawab kesenjangan kompetensi komunikasi yang dihadapi oleh mahasiswa koasisten (KOAS). Dalam praktik medis, keterampilan komunikasi terbukti menjadi pilar penting yang menunjang kepercayaan pasien, efektivitas pengobatan, hingga pencegahan kesalahan klinis akibat miskomunikasi. Melalui pendekatan seminar interaktif dan simulasi roleplay berbasis studi kasus, kegiatan ini mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan praktik dari keterampilan komunikasi klinik. Peserta dilatih menghadapi skenario nyata, seperti penolakan tindakan medis karena kepercayaan budaya, kesalahpahaman antarprofesi, serta keterbatasan bahasa dalam interaksi dengan pasien. Metode ini mendorong pembelajaran reflektif, pengembangan empati, serta peningkatan kemampuan berkomunikasi secara adaptif dan terstruktur di lapangan. Selain itu, pelatihan ini memperkenalkan model komunikasi profesional seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) dan prinsip ABCDE (Acknowledge, Be clear, Check understanding, Demonstrate empathy, Encourage collaboration) yang penting dalam komunikasi vertikal maupun kerja sama antarprofesi di sistem kesehatan yang bersifat hierarkis. Kegiatan ini juga membekali peserta dalam menghadapi tantangan komunikasi era digital, seperti “pasien Google”, yang menuntut pendekatan dialogis, validatif, dan kolaboratif dalam interaksi medis. Dengan pelaksanaan yang terencana, reflektif, dan relevan dengan tantangan dunia medis saat ini, pelatihan ini diharapkan menjadi pondasi bagi lulusan FK Untar dalam menjalankan praktik kedokteran yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga empatik, komunikatif, dan berorientasi pada keselamatan serta kesejahteraan pasien dalam berbagai konteks pelayanan kesehatan di Indonesia.
References
Cipta, D. A., Andoko, D., Theja, A., Utama, A. V. E., Hendrik, H., William, D. G., Reina, N., Handoko, M. T., & Lumbuun, N. (2024). Culturally sensitive patient-centered healthcare: a focus on health behavior modification in low and middle-income nations—insights from Indonesia. Frontiers in Medicine, 11. Https://doi.org/10.3389/FMED.2024.1353037/PDF
Ishikawa, H., Son, D., Eto, M., Kitamura, K., & Kiuchi, T. (2018). Changes in patient-centered attitude and confidence in communicating with patients: a longitudinal study of resident physicians. BMC Medical Education, 18(1). Https://doi.org/10.1186/S12909-018-1129-Y
Kee, J. W. Y., Khoo, H. S., Lim, I., & Koh, M. Y. H. (2018). Communication Skills in Patient-Doctor Interactions: Learning from Patient Complaints. Health Professions Education, 4(2), 97–106. Https://doi.org/10.1016/J.HPE.2017.03.006
Lo, L., Rotteau, L., & Shojania, K. (2021). Can SBAR be implemented with high fidelity and does it improve communication between healthcare workers? A systematic review. BMJ Open, 11(12). Https://doi.org/10.1136/BMJOPEN-2021-055247
Sung, B. Y. C., & Cheung, B. M. Y. (2022). Art of communication in medicine. Postgraduate Medical Journal, 98(1158), 237–238. Https://doi.org/10.1136/POSTGRADMEDJ-2020-138869