Augmented Reality-Based Digitalization of Banyumas Folktales as a Strategy for Preserving Intangible Cultural Heritage in the Era of Artificial Intelligence

  • Muhammad Riyanton UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Abstract

Cerita rakyat Banyumas merupakan bagian penting dari warisan budaya takbenda yang mengandung nilai sejarah, sosial, moral, dan kearifan lokal, tetapi keberadaannya menghadapi tantangan akibat perubahan pola konsumsi informasi dan perkembangan teknologi digital. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model digitalisasi cerita rakyat Banyumas berbasis Augmented Reality (AR) sebagai strategi pelestarian dan penguatan literasi budaya di era Artificial Intelligence (AI). Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan tahapan analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, validasi, uji coba, dan evaluasi produk. Sumber data penelitian meliputi cerita rakyat Banyumas, dokumentasi budaya, serta hasil wawancara dan angket dari ahli, pendidik, dan pengguna. Cerita rakyat yang dikembangkan meliputi Raden Kamandaka, Legenda Kali Pelus, Legenda Kutaliman, dan Legenda Masjid Saka Tunggal. Produk dikembangkan dengan mengintegrasikan teks, ilustrasi, audio, animasi, dan objek tiga dimensi yang dapat diakses melalui teknologi AR. Hasil yang ditargetkan berupa media digital yang valid, praktis, menarik, dan efektif dalam memperkenalkan cerita rakyat Banyumas sekaligus mendukung upaya pelestarian warisan budaya takbenda melalui teknologi digital.

Published
2026-08-25
How to Cite
RIYANTON, Muhammad. Augmented Reality-Based Digitalization of Banyumas Folktales as a Strategy for Preserving Intangible Cultural Heritage in the Era of Artificial Intelligence. Prawara: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, [S.l.], v. 7, n. 2, p. 187-201, aug. 2026. ISSN 2746-7139. Available at: <https://jos.unsoed.ac.id/index.php/jpbsi/article/view/22401>. Date accessed: 26 aug. 2026. doi: https://doi.org/10.20884/1.jpbsi.2026.7.2.22401.
Section
Artikel