Pemahaman Neurobiologis Borderline Personality Disorder: Tinjauan Literatur
Abstract
Borderline Personality Disorder (BPD) merupakan gangguan kepribadian yang kompleks dan ditandai oleh ketidakstabilan emosi, impulsivitas, gangguan kognitif, serta pola hubungan interpersonal yang maladaptif. Dalam beberapa dekade terakhir, pemahaman terhadap BPD telah berkembang dari pendekatan psikososial semata menuju kerangka neurobiologis yang lebih komprehensif. Artikel ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis dasar neurobiologis BPD dengan mengintegrasikan temuan dari studi neuroimaging, neurokimia, genetik–epigenetik, neurodevelopmental, dan neuropsikologis. Berbagai bukti menunjukkan adanya disfungsi pada sistem fronto-limbik, termasuk hiperaktivitas amigdala, hipoaktivasi korteks prefrontal, serta perubahan struktural pada hipokampus dan jaringan parietal, yang berkontribusi terhadap disregulasi emosi dan kontrol impuls. Selain itu, gangguan pada sistem neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, glutamat, serta sistem opioid endogen dan oksitosin berperan penting dalam impulsivitas, disforia, dan kesulitan relasional. Faktor genetik dan epigenetik, khususnya yang berkaitan dengan trauma masa kanak-kanak dan disregulasi aksis hipotalamus–pituitari–adrenal, memperkuat kerentanan neurobiologis terhadap BPD. Gangguan konektivitas jaringan otak berskala besar, termasuk default mode network, salience network, dan executive control network, turut menjelaskan ketidakstabilan afektif, gangguan konsep diri, serta defisit kognitif yang sering menyertai BPD. Pemahaman multidimensional mengenai mekanisme neurobiologis ini menegaskan pentingnya pendekatan diagnosis dan tatalaksana yang terintegrasi, individual, dan berbasis bukti untuk meningkatkan prognosis dan kualitas hidup individu dengan BPD.

