SEBARAN BATUGAMPING FORMASI KALIPUCANG KARANGBOLONG, KECAMATAN AYAH, KEBUMEN: IMPLIKASINYA TERHADAP UMUR DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN
Abstract
Formasi Kalipucang yang tersingkap di daerah Karangbolong, Kecamatan Ayah, Kebumen, menyimpan informasi penting mengenai sejarah sedimentasi batugamping di bagian selatan Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan memetakan sebaran batugamping secara petrologi, menentukan kisaran umur, serta merekonstruksi lingkungan pengendapannya. Sampel batugamping dikumpulkan secara sistematis dari beberapa singkapan terpilih dengan mempertimbangkan posisi stratigrafi, kemudian sampel perwakilan dianalisis melalui sayatan tipis untuk identifikasi foraminifera besar sebagai dasar penentuan umur batuan. Hasil pengamatan menunjukkan dominasi litologi wackestone, packstone, grainstone, grainstone– floatstone, dan chalky grainstone. Kehadiran fosil Amphistegina, Lepidocyclina (Nephrolepidina), Myogipsina, dan Flosculinella mengindikasikan umur Miosen Tengah (±15 juta tahun). Sebaran dan interpretasi litologi mengungkap adanya transisi lingkungan pengendapan laut dari reef core menuju back-reef lagoon. Pola ini diduga berkaitan dengan sisa morfologi gunung api bawah laut Formasi Gabon yang memengaruhi akumulasi sedimen karbonat. Temuan ini menegaskan bahwa persebaran batugamping Formasi Kalipucang tidak hanya merefleksikan dinamika vulkanisme dan sedimentasi karbonat, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang evolusi lingkungan purba laut dangkal di selatan Jawa Tengah.
References
Boudagher-Fadel, M. K. (2018). Evolution and geological significance of larger benthic foraminifera (2nd ed.). UCL Press.
Embry, A. F., & Klovan, J. E. (1971). A Late Devonian reef tract on northeastern Banks Island, NWT. Bulletin of Canadian Petroleum Geology, 19(4), 730–781.
Fadlin, Waluyo, G., Iwan, Y., Ariyanti, N., & Nurwantari, A. (2020). Geodiversity of Menganti paleo-volcano: New insight to geotourism potential in Kebumen, Central Java, Indonesia. Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology, 5(1), 11–24. https://doi.org/10.25299/jgeet.2020.5.1.2874
Hall, R. (2017). Southeast Asia: New views of the geology of the Malay Archipelago. Annual Review of Earth and Planetary Sciences, 45, 331–358. https://doi.org/10.1146/annurev-earth-063016-020633
Hermawan, D., & Widada, S. (2016). Geologi dan studi fasies karbonat Formasi Kalipucang, daerah Rogodadi dan sekitarnya, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Ilmiah Geologi Pangea, 3(1).
Lunt, P. (2022). Re-examination of the base Miocene unconformity in West Sabah, Malaysia, and stratigraphic evidence against a slab-pull subduction model. Journal of Asian Earth Sciences, 230, Article 105193. https://doi.org/10.1016/j.jseaes.2022.105193
Patriani, E. Y., Yurnaldi, D., & Setyawan, R. (2021). Peninjauan kembali keragaman fosil foraminifera untuk penentuan umur batugamping Formasi Karangbolong. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, 22(2), 67–79.
Pomar, L., Brandano, M., & Westphal, H. (2004). Environmental factors influencing skeletal grain sediment associations: A critical review of Miocene examples from the western Mediterranean. Sedimentology, 51(3), 627–651. https://doi.org/10.1111/j.1365-3091.2004.00640.x
Purwasatriya, E. B., Surjono, S. S., & Amijaya, D. H. (2019). Sejarah geologi pembentukan Cekungan Banyumas serta implikasinya terhadap sistem minyak dan gas bumi. Jurnal Dinamika Rekayasa, 15, 25–34.
Satyana, A. H. (2005). Oligo-Miocene carbonates of Java, Indonesia: Tectonic-volcanic setting and petroleum implications. Dalam Proceedings of the Indonesian Petroleum Association, 30th Annual Convention & Exhibition.




