WORKSHOP GEOLOGI DASAR SITUS BUMIAYU BAGI PENGELOLA DAN MASYARAKAT SEKITAR MUSEUM PURBAKALA BUMIAYU
Abstract
Situs Geologi dan Purbakala Bumiayu merupakan salah satu situs penting di Indonesia yang menyimpan bukti sejarah geologi dan purbakala. Namun, pengelolaan dan pelestariannya masih menghadapi tantangan karena keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai geologi dasar. Untuk menjawab per masalahan tersebut, diselenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa Workshop Geologi Dasar di Museum Purbakala Bumiayu, Kabupaten Brebes. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pengelola museum, pelestari situs, dan masyarakat sekitar mengenai konsep dasar geologi, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam menjaga warisan geologi setempat. Materi yang diberikan meliputi pengenalan jenis dan karakteristik batuan, proses pembentukan serta pengawetan fosil, disertai praktik langsung mengide ntifikasi batuan yang umum dijumpai di wilayah Bumiayu. Pelatihan dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu persiapan (survei kebutuhan peserta dan penyusunan modul), pelaksanaan ( pre-test, presentasi interaktif, dan praktik identifikasi batuan), serta evaluasi (post-test dan diskusi reflektif). Sebanyak 30 peserta dari tujuh desa terlibat aktif dalam kegiatan ini. Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta memiliki pengetahuan awal yang rendah, sementara hasil post-test memperlihatkan peningkatan signifikan dengan pergeseran nilai ke rentang 60 –80 dan rata -rata peningkatan pemahaman sebesar 12,365%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa workshop ini efektif dalam memperkuat pengetahuan dasar geologi sekaligus membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian Situs Bumiayu sebagai bagian dari warisan geologi dan budaya Indonesia.
References
[2] Hasibuan, F. (2009). Lingkungan Pengendapan Formasi Malawa, Sulawesi Selatan Berdasarkan Kandungan Makro Fosi. Jurnal Sumber Daya Geologi, 19(2), 95–106.
[3] Kastowo, & Suwarna, N. (1996). Peta Geologi Lembar Majenang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
[4] King, C. (2008). Geoscience education: an overview. Studies in Science Education , 44(2), 187–222. https://doi.org/10.1080/03057260802264289
[5] Kresna Dewi, Erik Setiyabudi, Riecca Oktavitania, & Hanang Samodra. (2023). Tinjauan Kontribusi Fosil dalam Penetapan Warisan Geologi. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, 24(4), 225–233. https://doi.org/10.33332/jgsm.geologi.v24i4.804
[6] Petcovic, H. L., Stokes, A., & Caulkins, J. L. (2014). Geoscientists’ perceptions of the value of undergraduate field education. GSA Today , 24(7), 4 –10. https://doi.org/10.1130/GSATG196A.1
[7] Psychogiou, M., & Chrysostomidis, P. (2017). EXPERIENTIAL LEARNING: THE ROCK CYCLE IN A WORKSHOP - PRESENTATION AND EVALUATION OF THE TEACHING APPROACH. Bulletin of the Geological Society of Greece , 50(1), 245. https://doi.org/10.12681/bgsg.11725
[8] Sirajuddin, H., Pachri, H., Imran, A. M., Husain, J. R., Langkoke, R., Husain, R., Farida, M., Maulana, A., . S., . A., Thamrin, M., . S., Hidayah, B., Fajrin, Muh., Azrul, Muh. Z., & Ikhsan, N. (2024). Penguatan Kapasitas Masyarakat Desa Salenrang, dalam Optimalisasi Pengelolaan Geoheritage Kawasan Geopark, Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. JURNAL TEPAT : Teknologi Terapan untuk Pengabdian Masyarakat , 7(1), 187–199. https://doi.org/10.25042/jurnal_tepat.v7i1.372
[9] Winarto, J. B. (2022). Paleogeomorfologi Formasi Cibodas dan Catatan Temuan Fosil Gigi Hiu di Daerah Gunung Sungging dan Sekitarnya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral , 23(1). https://doi.org/10.33332/jgsm.geologi.v23.1.61-69




