Intervensi Non-Farmakologi pada Gangguan Psikiatri Pasien Geriatri: Systematic Review
Abstract
Pendahuluan: Gangguan kejiwaan pada pasien geriatri, seperti depresi, kecemasan, dan gejala perilaku serta psikologis demensia (BPSD), sering memerlukan intervensi non-farmakologi untuk mengurangi risiko efek samping obat seperti sedasi berlebih, jatuh, dan interaksi obat. Tinjauan sistematis ini menyusun bukti terkini mengenai efektivitas intervensi non-farmakologi dalam meningkatkan kesehatan mental dan kualitas hidup lansia. Metode: Pencarian literatur dilakukan secara sistematis di PubMed dan Scopus untuk randomized controlled trial (RCT) yang diterbitkan tahun 2020–2025. Kriteria inklusi mencakup RCT dengan partisipan berusia ≥65 tahun, intervensi non-farmakologi (contoh: mindfulness, terapi musik, terapi reminiscence, latihan fisik, rehabilitasi kognitif), serta penggunaan analisis statistik SPSS. Tujuh studi terpilih setelah skrining sesuai panduan PRISMA. Risiko bias dinilai dengan Cochrane RoB 2 tool. Meta-analisis menghitung standardized mean difference (SMD) dengan interval kepercayaan 95% menggunakan model random-effects. Hasil: Tujuh RCT menunjukkan efektivitas sedang intervensi non-farmakologi dalam menurunkan gejala psikiatri (SMD keseluruhan −0.45, 95% CI −0.70 to −0.20, I²=45%). Intervensi individual secara signifikan menurunkan skor depresi, kecemasan, iritabilitas, serta BPSD (p<0.05 pada semua studi), tanpa efek samping mayor yang dilaporkan. Pendekatan mindfulness dan multimodal memberikan dampak terbesar terhadap perbaikan suasana hati dan fungsi kognitif. Kesimpulan: Intervensi non-farmakologi terbukti efektif serta aman dan sebaiknya menjadi pilihan utama pada gangguan psikiatri pasien geriatri, khususnya di lingkungan dengan sumber daya terbatas seperti Indonesia. Diperlukan penelitian lokal lebih lanjut untuk adaptasi budaya dan penilaian cost-effectiveness.

