GONDRONG: SEBUAH KONSTRUKSI IDENTITAS PRIA DI ERA MILENIAL
Abstract
Era milenial menawarkan banyak hal, terutama dinamika sosial berorientasi teknologi. Internet,
menjadi bagian tak terpisahkan dari para ‘millenials’, sebutan bagi generasi yang hidup pada era
milenial ini. Di antaranya, munculnya komunitas-komunitas virtual masyarakat yang menyatakan
entitas sebuah kelompok dengan ciri khas dan kepentingannya. Salah satunya, „Komunitas
Gondrong‟, yang dapat diidentifikasi melalui akun jejaring sosial. Komunitas Gondrong
merupakan kelompok sosial yang dibentuk oleh sekumpulan pria berambut panjang melebihi
telinga maupun tengkuk. Entitas ini menjadi fenomena realitas sosial-siber yang unik, karena
didominasi oleh mahasiswa dari seluruh penjuru tanah air. Termasuk mahasiswa Kota Pontianak
yang juga menjadikan „gondrong‟ sebagai sebuah identitas diri. Tulisan ini bertujuan untuk
menganalisis fenomena komunitas mahasiswa pria gondrong Kota Pontianak dalam
mengkonstruksi identitas dirinya pada jejaring sosial instagram dengan menggunakan metode
etnografi virtual. Sebagai entitas virtual yang memiliki budaya dan artefak budaya tertentu,
interaksi sosial yang terjadi menggunakan simbol-simbol yang hanya tepat dimaknai oleh para pria
berambut gondrong ini. Kolektivitas yang dibangun dalam instagram teridentifikasi sebagai
konstruksi identitas yang meneguhkan eksistensi diri para mahasiswa pria dalam realitas sosial-
siber.
Penulis yang menerbitkan artikelnya di Jurnal Widya Komunika menyetujui ketentuan berikut:
1. Hak cipta atas artikel ilmiah dipegang penuh oleh masing-masing Penulis.
2. Penulis memberikan hak publikasi pertama kepada Jurnal Widya Komunika dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
3. Penulis diizinkan untuk menyebarluaskan artikel yang telah diterbitkan di jurnal ini (misalnya: mengunggahnya ke repositori institusi atau membagikannya di media sosial akademik) dengan tetap mencantumkan informasi publikasi asli dari Jurnal Widya Komunika.




