MAKNA TAWURAN SEBAGAI TRADISI BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 70 JAKARTA
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi tawuran di SMAN 70 Jakartayang
dimiliki oleh siswa pelaku tawuran.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori
fenomenologi Husserl dan teori konstrusi atas realita sosial oleh Berger & Luckmann. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa makna tawuran sebagai tradisi bagi siswa pelaku tawuran di
SMAN 70 Jakarta dapat dikategorikan sebagai makna afirmatif (tawuran sebagai sebuah nilai
kebanggaan) dan negative (stereotype dan insecurities). Pengalaman komunikasi yang mereka
alami yaitu cara perkenalan tawuran oleh kakak kelasnya, sehingga menimbulkan motivasi bagi
mereka untuk melakukan tawuran, serta timbul tanggapan dari mereka untuk meneruskan atau
menghentikan kegiatan tawuran. Pola komunikasi yang dilakukan para siswa pelaku tawuran
untuk menghilangkan reputasi SMAN 70 Jakarta sebagai pegiat tawuran tentunya menempuh
berbagai macam usaha dan menimbulkan pertentangan diantara siswa pelaku tawuran karena
adanya dilema antara untuk mempertahankan tradisi dan reputasi atau menghentikan kegiatan
tawuran di SMAN 70 Jakarta.
Penulis yang menerbitkan artikelnya di Jurnal Widya Komunika menyetujui ketentuan berikut:
1. Hak cipta atas artikel ilmiah dipegang penuh oleh masing-masing Penulis.
2. Penulis memberikan hak publikasi pertama kepada Jurnal Widya Komunika dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
3. Penulis diizinkan untuk menyebarluaskan artikel yang telah diterbitkan di jurnal ini (misalnya: mengunggahnya ke repositori institusi atau membagikannya di media sosial akademik) dengan tetap mencantumkan informasi publikasi asli dari Jurnal Widya Komunika.




