Tinjauan Etnolinguistik: Makna Kultural Jenis Makanan dalam Tradisi Ruwahan di Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini mengkaji makna kultural jenis makanan dalam tradisi Ruwahan di Desa Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Tradisi Ruwahan merupakan bagian penting dari sejarah dan budaya Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai ungkapan terima kasih kepada pencipta dan alam. Ritual ini melibatkan penghormatan kepada leluhur dan pembagian doa dalam acara yang diadakan pada bulan Ruwah atau Syaban dalam kalender Jawa. Pelaksanaan Ruwahan bervariasi tergantung pada kepercayaan agama yang dianut masyarakat setempat, dengan versi Islam dan Hindu-Jawa yang berbeda dalam pendekatan dan makna simbolisnya. Atas dasar tersebut peneliti mengkaji lebih lanjut makna kultural tradisi Ruwahan di Desa Kemiri, Kabupaten Purworejo, terutama dalam konteks jenis makanan dalam tradisi Ruwahan. Hal ini sangat penting karena tradisi ini masih dipertahankan oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan nenek moyang mereka. Selain itu, peneliti ingin mendokumentasikan warisan budaya ini karena belum ada penelitian yang secara khusus membahas makna budaya dari tradisi Ruwahan di Desa Kemiri Kabupaten Purworejo dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnolinguistik dengan metode penelitian yang melibatkan wawancara bebas, studi pustaka, dan sumber lisan untuk memperoleh data-data yang diperlukan. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang berharga bagi pemahaman kita tentang keberagaman budaya dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Ruwahan serta makanan yang terkait dengannya. Penelitian ini mengungkapkan makna kultural dalam jenis makanan tradisi Ruwahan, seperti apem, ketan, dan kolak. Ketiga makanan tersebut tidak hanya merupakan sajian khas dalam tradisi Ruwahan, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Apem, berasal dari bahasa Arab yang berarti permintaan maaf, menjadi simbol permohonan maaf kepada diri sendiri dan keluarga yang telah meninggal. Ketan, dengan tingkat kelengketannya yang tinggi, melambangkan kedekatan antar manusia dan kesadaran akan kesalahan individu. Sedangkan kolak, dengan makna penciptaan yang terkandung dalam katanya, mengingatkan akan hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa dan harapan yang sama untuk para leluhur.
Article Details
How to Cite
MUZAKKI, Ilyas; PRASTIWI, Yuliana Tri Prastiwi Tri.
Tinjauan Etnolinguistik: Makna Kultural Jenis Makanan dalam Tradisi Ruwahan di Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo.
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia, [S.l.], v. 4, n. 2, p. 93-100, jan. 2025.
ISSN 2961-8045.
Available at: <https://jos.unsoed.ac.id/index.php/iswara/article/view/12104>. Date accessed: 28 mar. 2025.
doi: https://doi.org/10.20884/1.iswara.2024.4.2.12104.
Section
Articles