PEREMPUAN DALAM PUSARAN KORUPSI

(: Perspektif Sosiologi Politik)

  • Titis Perdani Jurusan Ilmu Pilitik FISIP UNSOED

Abstract

Perempuan selama ini dianggap sebagai second gender, artinya perempuan ditempatkan sebagai posisi kedua setelah laki laki. Kasustraan Jawa menyebut stigma terhadap perempuan yang hanya menguasai 3 ranah yaitu yaitu masak, mancak, dan manak telah melahirkan banyak upaya kesetaraan yang akhirnya dilakukan kaum perempuan termasuk keterlibatan dalam ranah publik menjadi tokoh ataupun pemimpin di ranah nasional hingga lokal. Namun pada kenyataannya kesempatan peran bagi kaum perempuan itu sendiri dicederai dengan keterlibatan mereka pada kasus-kasus korupsi. Fenomena banyaknya perempuan tersangkut korupsi merupakan gejala yang relatif baru di Indonesia. Tekanannya bukan pada persoalan kebetulan atau by design, melainkan lebih pada bagaimana kita memaknai perubahan sosiologis dalam konteks gender dan feminisme yang bersangkut paut dengan skandal-skandal keuangan tersebut. Di sisi lain faktor penghambat seorang perempuan terlibat ataupun terjerat kasusu korupsi juga dapat ditinjau dari perspektif gaya kepemimpinan dan psikologi perempuan dimana perempuan lebih menggunakan perasaan dibanding logika laki-laki dalam mengambil keputusan, politik : partisipasi perempuan pada jabatan publik dan strategis dirasa masih sedikit, sudut pandang agama menyebutkan bahwa kaum laki-laki yang lebih baik menjadi seorang pemimpin dan budaya ketimuran yang menempatkan posisi perempuan dibelakang laki laki. Adanya keterlibatan dan perspektif faktor penghambat keterlibatan ini yang akan menjadi kajian pembahasan dalam tulisan berikut.

Published
2020-06-27
How to Cite
PERDANI, Titis. PEREMPUAN DALAM PUSARAN KORUPSI. Jurnal Interaksi, [S.l.], v. 3, n. 12, p. 75-84, june 2020. ISSN 1412-7229. Available at: <http://jos.unsoed.ac.id/index.php/jis/article/view/2701>. Date accessed: 07 july 2020.